Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Ibu dan Menantu

Seorang ibu tersenyum kepada istri anaknya setelah berlalu bulan madu keduanya. Dia berkata, "Engkau telah membuat putraku rajin shalat ke masjid. Engkau berhasil dalam waktu 30 hari saja, padahal aku telah berusaha menasihatinya selama 30 tahun!"

Menantu itupun mengalirkan air mata...

Menantu itu berkata, "Apakah anda telah mengetahui wahai ibuku, kisah tentang batu dan harta?

Bukti Kebesaran Allah pada Tulang Ekor

"Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tana) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat" (HR. Bukhari)

Belasan abad lamanya, hadits tersebut menjadi hal yang gaib yang tidak mungkin bisa dijelaskan dengan logika. Seiring berjalannya waktu beberapa penelitian ilmiah mampu menjelaskan kebenaran hadits tersebut dikemudian hari.


Renungan Indah


W.S. Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua
"derita" adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh
dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".....
Semoga bermanfaat..!!!


Dipetik waktu adzan Ashar, selepas pencipta renungan dimakamkan.

Inilah Manfaat Ilmiah Membaca Al-Qur’an


“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. 7: 204).

Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang kuat ingatan atau hafalannya. Di antaranya menyedikitkan makan, membiasakan melaksanakan ibadah shalat malam, dan membaca Al-Qur’an sambil melihat kepada mushaf”. Selanjutnya ia berkata, “Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Al-Qur’an”.

Introspeksi Sebelum Ajal

Sesaat setelah rohku berpisah dengan jasad, yaitu ketika aku mulai memasuki alam kehidupan yang baru, apakah aku dapat tersenyum menjumpai malaikat yang memberikan salam kepadaku:
1. “Wahai anak Adam, engkaukah yang meninggalkan dunia, atau dunia yang meninggalkanmu?”
2. “Wahai anak Adam, engkaukah yang merengkuh dunia, atau dunia yang merengkuhmu?”
3. “Wahai anak Adam, engkaukah yang mematikan dunia, atau dunia yang mematikanmu?”

Nasehat Rasulullah kepada Fathimah


Dan dijadikan kamu lelaki dan perempuan, dan sesungguhnya pekerjaan kamu itu sangat banyak (QS. Al-Lail : 3-4)

Suatu hari Rasulullah SAW menemui putrimya Fathimah yang sedang menggiling gandum dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis.

Rasulullah SAW bertanya pada anakandanya, "apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah?, semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis".

Kisah Nyata: Akhir Hayat Penggemar Musik Dan Pencinta Al-Qur’an

Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”

Ayah

Ayah di dalam kamar, beberapa kali batuk-batuk. "Cinta ayahmu kepadamu luar biasa, tetapi lebih banyak disimpan dalam hati karena kau perempuan", kata ibu. Aku mendengarkan ibu dengan heran. 

"Ketika kau melanjutkan kuliah ke Jakarta dan aku bersama ayahmu mengantarmu ke stasiun, kau dan aku saling berpelukan. Ayahmu hanya memandang. Dia bilang juga ingin memelukmu, tapi sebagai laki-laki tak lazim memeluk anak perempuan di depan banyak orang, maka dia hanya menjabat tanganmu, lalu berdiri sampai kereta itu menghilang", kata ibu.

Apakah Anakku Harus Ranking 1?

Globalisasi dan liberalisasi melahirkan rejim standarisasi, sertifikasi, kualifikasi.
 Si Ranking 23 : “Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan”

Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar, namun ternyata anak kami menerimanya dengan senang hati.

Ketika Allah Meminjam Tangan Kita

Pembaca yang mulia! Pernahkah anda mendengar bisikan dari Allah Yang Maha Pengasih? Camkan hadits qudsy berikut:
“Hai anak Adam, Aku sakit tetapi engkau enggan menjenguk-Ku.”
“Wahai Tuhan, bagaimana aku akan menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?”
“Tidakkah engkau ingat ada hamba-Ku yang sakit tapi engkau enggan menjenguknya. Andaikan engkau menjenguknya, tentu engkau akan mendapati-Ku di sisinya.

Sumber Rezeki Hanya Satu


Memahami makna Ar-Rozzaq
Salah satu dari 99 asma’ul husna (nama-nama yang indah) yang dimiliki oleh Allah adalah Ar-Rozzaq (Yang Maha Pemberi Rezeki). Dalam keyakinan tauhidul asma’was shifat (Tauhid dalam nama dan sifat Allah) ditegaskan bahwa nama Ar-Rozzaq mengandung arti bahwa hanya Allah satu-satunya Zat yang menjadi sumber rezeki bagi alam semesta ciptaan-Nya dan Dia terus-menerus melakukan aktifitas-Nya memberikan rezeki hingga sekarang dan masa yang tak kita ketahui.
Keyakinan tentang kandungan makna nama Ar-Rozzaq tersebut wajib dipahami, diterima, dan diyakini oleh setiap orang yang beriman untuk selanjutnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Beramal Jariyah dengan Mengajar


Amal Jariyah (bahasa Arab) secara leterlek berarti amal yang mengalir. Ungkapan tersebut bermula dari hadits Nabi yang sangat masyhur tentang terputusnya (hasil) amal perbuatan manusia ketika ajalnya tiba, “Bila anak Adam mati terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga (perkara): shodaqoh jariyah (sedekah yang berlanjut), atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Mengapa Hati ini Terasa Jenuh dan Sempit?

(Disalin dari dinding facebook Fara Dila)

Seorang Ustadz mengisahkan, “Aku pernah pergi berobat ke Inggris, dan aku masuk ke salah satu rumah sakit ternama yang ada di sana. Pasien yang masuk ke rumah sakit ini adalah orang-orang besar, pejabat tinggi dan para menteri.
Ketika seorang dokter masuk ke ruanganku dan melihat penampilanku, dia berkata, "Anda seorang muslim?"
Aku menjawab, "Ya!"
Dia lalu berkata, "Ada satu problem yang membuatku bingung setelah aku mengenal diriku, apakah mungkin anda mendengarkan apa yang saya alami?"
Aku jawab, "Tentu!

Aku Dulu Tak Bercita-Cita Menjadi Guru

Seorang kawan pernah bertutur, “Aku dulu tak bercita-cita menjadi guru...”
Berikut adalah cerita kawan tersebut hingga akhirnya dia mengabdikan hidupnya sebagai seorang guru.

Siapa yang Berhak Masuk Sorga Terlebih Dahulu?

Di depan pintu sorga, ada beberapa kelompok orang yang sedang bertengkar dan berebut mau masuk sorga terlebih dahulu, mereka terdiri dari kelompok pahlawan yang gugur dalam memperjuangkan agama, kelompok ilmuwan yang telah menggunakan ilmunya untuk kemanusiaan, dan kelompok dermawan yang telah menyumbangkan banyak hartanya untuk kemanusiaan.

Menjadi Guru adalah Panggilan Hidup

Pertengahan Tahun 1983, dalam upacara pengukuhan tamat belajar, almarhum KH. Imam Zarkasyi, Pimpinan Pondok Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur saat itu, menasehati saya – yang kemudian ternyata sebagai wasiat untuk saya – agar membantu Ustadz Zulkifli, kakak misan saya, dalam mengelola pondok pesantren di Taliwang Sumbawa NTB.