Tampilkan postingan dengan label Puisi Monumental. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Monumental. Tampilkan semua postingan

Nak, Cium Ibumu!



(Kado di Hari Ibu)
 
Nak,
Jika saat ini engkau pandai berbicara
Mempengaruhi orang lain
Mengajak massa
Itu berawal dari satu dua kata
Yang diajarkan oleh ibumu, dahulu

Renungan Indah


W.S. Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua
"derita" adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh
dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".....
Semoga bermanfaat..!!!


Dipetik waktu adzan Ashar, selepas pencipta renungan dimakamkan.

SEBUAH WASIAT DI ATAS MAKAM TANPA NAMA

(Renungan 17 Agustus)

Anak cucuku!

Jangan tutup mataku
Biarkan aku melihat masa depan Indonesiaku ini
di angkasanya berkibar merah putih, berkibar di puncak tertinggi

DIRGAHAYU INDONESIA

(Kado Hari Kemerdekaan)

Dirgahayu Indonesia!
Tapi aku tak tahu, gembirakah aku atau bersedih?
Ketika hamparan negri yang berlimpah kekayaan

PUISI LAPAR

(Menyusuri rahmat di bulan Ramadhan)
Pak... Minta makan, Pak...
Mulut kelaparan anak istriku sudah menganga

SAPA RAMADHAN

(Menyambut Ramadhan)
 
Aku datang lagi, anak-anakku!
Mari kemari berhambur dalam rengkuhku
pelukan kasih yang kusimpan dan kubawa untukmu
bertabur cahaya suci.

Aku Mi'raj

(Renungan malam Isra’ Mi’raj)

Malam ini, aku hendak bermi’raj
aku bersuci dengan air keikhlasan
aku kenakan baju kepasrahan
aku bentangkan sajadah kekhusyukan
aku wiridkan do’a kerinduan
dan...
aku tunggu buraq untuk menjemputku

Bangkitlah Segera, Jika Mau Bangkit!

(Catatan menjelang Hari Kebangkitan Nasional)
 
Bangkitlah, hai Garuda! Buka matamu!
Lihatlah betapa kejayaan yang pernah kau raih
tercuil keping demi keping, dipatuk elang dan burung lain
yang tersisa hanyalah yang tersimpan di hati anak-anak bangsa
yang masih tegar melafalkan nama Indonesia
meskipun mereka tak lagi tahu, apa yang bisa mereka banggakan
saat menatap langit Indonesia.
Gerakkan lehermu, putarlah kepalamu!
Tengoklah lambaian anak-anak bangsa di seluruh persada
mengibarkan harapan pada tiang bendera yang terpancang sepi

Pak Guru, Bu Guru, Aku Masih Anakmu

(kado di hari pendidikan nasional)

Pak Guru, Bu Guru!
Aku, anakmu yang dulu melihat aksara
dan tak mampu kubaca
kini sudah pandai merangkai kata
untuk titianku melanglang buana
Aku, anakmu yang dulu bermain angka
dan tak tahu bagaimana
kini sudah ahli mengolah data
untuk kemudian bertanya, berapa?

Yin & Yang

(Kado Peringatan Hari Kartini)

Siang dan malam adalah gender.
Siang yang terang,
dengan matahari yang gagah perkasa
menyapu bumi dengan lembaran sinar
menebar panas, menabur tenaga.
Malam yang gelap,
dengan rembulan yang cantik menawan
menyapa bumi dengan lambaian cahaya
menebar dingin, menabur hasrat.
Batasnya adalah terbit dan terbenamnya sang surya.