MENEGUHKAN FITRAH

(Khutbah ‘Idil Fitri  1 Syawwal 1434 H/8 Agustus 20130)
Kamutar Telu Center (KTC) Kabupaten Sumbawa Barat NTB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أَكْبَرُ ، الله أَكْبَرُ ، الله أَكْبَرُ
الله أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحاَنَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً
لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ ، صَدَقَ وَعْدَهُ ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ
لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَ الله أَكْبَرُ ، الله أَكْبَرُ وَِللهِ اْلحَمْدُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ ُمحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِناَ ُمحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِالْهُدَى إِلىَ يَوْمِ الْقِياَمَةِ. أَماَّ بَعْدُ.

Ibu dan Menantu

Seorang ibu tersenyum kepada istri anaknya setelah berlalu bulan madu keduanya. Dia berkata, "Engkau telah membuat putraku rajin shalat ke masjid. Engkau berhasil dalam waktu 30 hari saja, padahal aku telah berusaha menasihatinya selama 30 tahun!"

Menantu itupun mengalirkan air mata...

Menantu itu berkata, "Apakah anda telah mengetahui wahai ibuku, kisah tentang batu dan harta?

Nak, Cium Ibumu!



(Kado di Hari Ibu)
 
Nak,
Jika saat ini engkau pandai berbicara
Mempengaruhi orang lain
Mengajak massa
Itu berawal dari satu dua kata
Yang diajarkan oleh ibumu, dahulu

Bukti Kebesaran Allah pada Tulang Ekor

"Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tana) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat" (HR. Bukhari)

Belasan abad lamanya, hadits tersebut menjadi hal yang gaib yang tidak mungkin bisa dijelaskan dengan logika. Seiring berjalannya waktu beberapa penelitian ilmiah mampu menjelaskan kebenaran hadits tersebut dikemudian hari.


Renungan Indah


W.S. Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua
"derita" adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh
dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".....
Semoga bermanfaat..!!!


Dipetik waktu adzan Ashar, selepas pencipta renungan dimakamkan.